Senin, 06 Juni 2022

CARA PEMBUATAN PUPUK KOMPOS




I. BOKASHI
        1. Bahan          :
Ø  Pupuk Kandang yang sudah masak             :  250 Kg
Ø  Sekam Padi (Arang Sekam)/Serbuk Gergaji   :    50 Kg
Ø  Dedak / Katul                                            :    10 Kg
Ø  EM 4                                                        :    20 cc
Ø  Tetes tebu                                                 :    20 cc
Ø  Air                                                           :    10 Liter
Ø  Karung Bagor / Plastik                               :  secukupnya

            2. Cara Pembuatannya           :
Ø  Pupuk Kandang, Sekam Padi dan Dedak/Katul dicampur jadi satu diaduk
    hingga rata. ( Campuran I )
Ø  Air, EM 4 dan Tetes tebu dicampur dan diaduk hingga rata ( Campuran II )
Ø  Campuran I disiram dengan Campuran II sedikit demi sedikit hingga rata
    Betul ( apabila campuran II masih dirasa kurang bisa ditambah )
Ø  Hasil campuran I dan II tidak boleh terlalu basah dan tidak boleh terlalu
    kering ( apabila diremas pupuk bisa kempel dan air tidak menetes )
Ø  Setelah campuran selesai hasilnya disimpan ditempat yang kering dan
    ditutup dengan Karung Bagor / Plastik
Ø  Ditunggu 7 – 15 hari ( setiap 6 jam perlu dikontrol apabila bagian dalam
    terasa panas,kompos tersebut perlu diaduk dan dibuka sementara + 1 jam

    II. KOMPOS STARDEX
            1. Bahan          :
v  Pupuk Kandang yang sudah masak             : 250 Kg.
v  Sekam Padi / Serbuk Gergaji                       :   50 Kg.
v  Kapur Tohor                                              :   10 Kg.
v  SP36                                                        :     1 Kg.
v  Urea                                                         :     ½ Kg.
v  Stardex                                                     :     ½ Kg.

            2. Cara Pembuatannya           :
v  Pupuk Kandang, sekam padi, kapur tohor, SP36 dan Urea dicampur hingga
   rata betul.
v  Hasil campuran tersebut kemudian ditaburi dengan STARDEX hingga rata
   dan diaduk hingga rata
v  Setelah selesai dimasukkan dalam karung Bagor atau tempat lain
v  Setelah 7 – 15 hari kompos tersebut sudah dapat digunakan


 



Rabu, 18 Mei 2022

BUDIDAYA KEDELAI


Ketergantungan terhadap kedelai impor sangat memprihatinkan, karena seharusnya kita mampu mencukupinya sendiri. Ini karena produktivitas rendah dan semakin meningkatnya kebutuhan kedelai. Tanaman ini dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah asal drainase (tata air) dan aerasi (tata udara) tanah cukup baik, curah hujan 100-400 mm/bulan, suhu udara 230C - 300C, kelembaban 60% - 70%, pH tanah 5,8 - 7 dan ketinggian kurang dari 600 m dpl.


PENGOLAHAN TANAH

·         Tanah dibajak, digaru dan diratakan, atau tanpa olah tanah untuk lahan bekas sawah.

·         Sisa-sisa gulma dibenamkan

·         Buat saluran air dengan jarak sekitar 3-4 m


 PENANAMAN

·         Benih dicampur Legin (Rhizobium ) untuk tanah yang belum pernah ditanami kedelai

·         Buat jarak tanam antar tugalan berukuran 30 x 20 cm, 25 x 25 cm atau 20 x 20 cm

·          Buat lubang tugal sedalam 1 cm dan masukkan biji 2-3 per lubang

·         Tutup benih dengan tanah gembur atau pupuk organik dan tanpa dipadatkan

·         Waktu tanam yang baik akhir musim hujan

 

PENJARANGAN & PENYULAMAN

Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari, benih yang tidak tumbuh diganti atau disulam dengan benih baru yang akan lebih baik jika dicampur Legin. Penyulaman sebaiknya sore hari.


PENYIANGAN

Penyiangan pertama umur 2-3 minggu, ke-2 pada saat tanaman selesai berbunga (sekitar 6 minggu setelah tanam). Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke-2.


PEMBUBUNAN

Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya.

PEMUPUKAN

Contoh jenis dan dosis pupuk sebagai berikut :


Waktu

Dosis Pupuk Makro

(per ha)

Urea

(kg)

SP-36

(kg)

KCl

(kg)

2 Minggu Setelah Tanam

50

40

20

6 Minggu Setelah Tanam

30

20

40

Total

80 kg

60 kg

60 kg

 

PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN

Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lembab tetapi tidak becek. Kondisi seperti ini dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong. Saat menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering.


 PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT

 

1. Aphis glycine
Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soyabean Mosaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala: layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian: (1) Jangan tanam tanaman inang seperti: terung-terungan, kapas-kapasan atau kacang-kacangan; (2) buang bagian tanaman terserang dan bakar, (3) gunakan musuh alami (predator maupun parasit).

2. Kumbang daun tembukur (Phaedonia inclusa)
Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun. Gejala: larva dan kumbang memakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman.

3. Ulat polong (Ettiela zinchenella)
Gejala: pada buah terdapat lubang kecil. Waktu buah masih hijau, polong bagian luar berubah warna, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya. Pengendalian : (1) tanam tepat waktu.

4. Kepik polong (Riptortis lincearis)
Gejala: polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa.

5. Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli)
Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh.

6. Kepik hijau (Nezara viridula)
Pagi hari berada di atas daun, saat matahari bersinar turun ke polong, memakan polong dan bertelur. Umur kepik dari telur hingga dewasa antara 1 sampai 6 bulan. Gejala: polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau kulit polong berbintik coklat.

7. Ulat grayak (Spodoptera litura)
Gejala : kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain. Pengendalian
dapat dengan cara sanitasi.

8. Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas sp.)
Gejala : layu mendadak bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam rapat. Pengendalian : Varietas tahan layu, sanitasi kebun, dan pergiliran tanaman.

9. Penyakit layu (Jamur tanah : Sclerotium Rolfsii)
Penyakit ini menyerang tanaman umur 2-3 minggu, saat udara lembab, dan tanaman berjarak tanam pendek. Gejala : daun sedikit demi sedikit layu, menguning. Penularan melalui tanah dan irigasi. Pengendalian; tanam varietas tahan
.

10. Anthracnose (Colletotrichum glycine )
Gejala: daun dan polong bintik-bintik kecil berwarna hitam, daun yang paling rendah rontok, polong muda yang terserang hama menjadi kosong dan isi polong tua menjadi kerdil. Pengendalian
, perhatikan pola pergiliran tanam yang tepat.

11.Penyakit karat (Cendawan Phakospora phachyrizi)
Gejala: daun tampak bercak dan bintik coklat. Pengendalian
, menanam kedelai yang tahan terhadap penyakit.

12. Busuk batang (Cendawan Phytium Sp)
Gejala : batang menguning kecoklat-coklatan dan basah, kemudian membusuk dan mati. Pengendalian
, memperbaiki drainase lahan.

 

PANEN DAN PASCA PANEN

 

·           Lakukan apabila sebagian besar daun sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna kuning agak coklat dan gundul.

·           Perlu diperhatikan, kedelai sebagai bahan konsumsi dipetik pada usia 75 - 100 hari, sedangkan untuk benih umur 100 - 110 hari, agar kemasakan biji betul-betul sempurna dan merata.

·           Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera dijemur.

·           Biji yang sudah kering lalu dimasukkan ke dalam karung dan dipasarkan atau disimpan.


 ( Ery Setyowati, SP)

 

Jumat, 11 Februari 2022

CARA MEMBUAT PUPUK ORGANIK atau - KOMPOS FERMENTASI DARI LIMBAH TERNAK

 

CARA MEMBUAT PUPUK ORGANIK 

 atau  - KOMPOS FERMENTASI DARI LIMBAH TERNAK

Bahan :

1.      Kotoran hewan ( sapi , kambing , ayam, kelinci dll.) = 3 – 5 bagian.

2.      Jerami / sisa-sisa pakan ternak ( yang sudah dicacah lebih kurang 2 Cm ) =  ½ - 1 bagian

3.      Rumput / sisa-sisa pakan ternak  ( yang sudah dipotong-potong lebih kurang 2 Cm = ½ - 1 bagian

4.      Sekam / arang sekam = 1 bagian

5.      Bahan organik lainnya ( apabila ada )= 1 bagian

6.      Katul =  1/50 bagian

7.      Air tebu / larutan tetes gula / larutan gula / nira = secukupnya

8.      Bioaktivator / decomposer / biostarter = secukupnya

9.      Air bersih = secukupnya

 

Catatan / Keterangan :

1.      Bagian = takaran / ukuran yang dipergunakan untuk menakar bahan organik, bisa menggunakan ember, karung, dll.

2.      Untuk membuat 1 ton pupuk  diperlukan larutan bioaktivator lebih kurang 1 liter sampai dengan 1,5 liter.  ( Jumlah tetes gula = Jumlah bio aktivator ).

3.      Jumlah air yang diperlukan sampai tercapai kelembaban bahan 40 %

4.      Perbandingan antara larutan bio aktivator : tetes gula :  air =  2 sendok makan : 2 sendok makan : 10 liter   

5.      Pembasahan seluruh bahan organik dengan larutan campuran bio aktivator + tetes gula + air bersih  secara merata     sampai kadar air bahan organik mencapai lebih kurang 40 %

 

  Cara Pembuatan :

1.      Campurkan  kotoran hewan , cacahan jerami dan rumput, sekam / arang sekam sampai tercampur merata

2.      Buat campuran larutan activator + air tebu / tetes gula  + air bersih dengan perbandingan 1 : 1 : 500 

3.       Basahi katul dengan larutan tersebut diatas, sampai sedikit     lembab saja       ( kelembaban 40% / jangan sampai menjadi adonan jladren / menggumpal )

4.      Taburkan katul lembab tersebut kedalam campuran bahan, diaduk-aduk  secara merata , sambil dibasahi dengan larutan bioactivator yang telah dicampur dengan air tebu / tetes gula sampai kelembaban bahan mencapai 40% ( tanda kelembaban sudah mencapai 40% yaitu apabila bahan organik yang dibasahi tersebut dikepal-kepal  dengan jari tangan yang rapat kemudian dilepaskan masih tetap dalam kondisi menggumpal , tetapi tidak ada tetesan air yang keluar dari sela-sela jari tangan ).

5.      Tebarkan bahan tersebut setebal kurang lebih 40 Cm diatas lantai semen atau diatas tanah yang diberi alas jerami kering / tebasan rumput kering. tempat pembuatan sebaiknya beratap atau dibawah naungan pohon karena dalam proses pembuatan pupuk organik ini tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung dan  air hujan )

6.      Tutup dengan karung goni / karung plastik / terpal dsb. Dan biarkan selama 7 hari

7.      Setiap 8 – 12 jam sekali suhu hamparan tersebut harus diperiksa suhunya, jangan sampai terlalu panas ( suhu melebihi 60OC ) , maka perlu dibuka sejenak – dan apabila terlalu panas  perlu diaduk-aduk agar bagian bawah tidak terlalu panas, kemudian ditutup kembali.

8.      Pada hari ke 5 biasanya suhu sudah menurun , dan pada hari ke 7 maka proses fermentasi kompos sudah selesai, tutup harus dibuka, dan kompos diangin-anginkan sampai benar-benar dingin , setelah kurang lebih 1 minggu kemudian kompos siap dipergunakan di lahan.


Cara Penggunaan :

            Prinsip penggunaan pupuk organik padat / kompos fermentasi harus dimasukan kedalam lapisan olah tanah ( tertutup lapisan tanah ), sehingga  pupuk organik ini sebaiknya diberikan sebagai pupuk dasar bersamaan dengan pengolahan tanah , dengan takaran  3,5 – 5 ton/ ha. pada kondisi tanah yang normal / tanah yang cukup subur  atau disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah.


Oleh : Ery Setyowati