Balai Penyuluhan Pertanian Kalibawang Kulon Progo DIY Jl.Sentolo-Muntilan Km 20, Ngrajun, Banjarharjo, Kalibawang
Senin, 06 Juni 2022
CARA PEMBUATAN PUPUK KOMPOS
Rabu, 18 Mei 2022
BUDIDAYA KEDELAI
Ketergantungan terhadap kedelai impor sangat memprihatinkan, karena seharusnya kita mampu mencukupinya sendiri. Ini karena produktivitas rendah dan semakin meningkatnya kebutuhan kedelai. Tanaman ini dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah asal drainase (tata air) dan aerasi (tata udara) tanah cukup baik, curah hujan 100-400 mm/bulan, suhu udara 230C - 300C, kelembaban 60% - 70%, pH tanah 5,8 - 7 dan ketinggian kurang dari 600 m dpl.
PENGOLAHAN TANAH
·
Tanah
dibajak, digaru dan diratakan, atau tanpa olah tanah untuk lahan bekas sawah.
·
Sisa-sisa
gulma dibenamkan
· Buat saluran air dengan jarak sekitar 3-4 m
PENANAMAN
·
Benih dicampur Legin (Rhizobium ) untuk
tanah yang belum pernah ditanami kedelai
·
Buat
jarak tanam antar tugalan berukuran 30 x 20 cm, 25 x 25 cm atau 20 x 20 cm
·
Buat lubang tugal sedalam 1 cm dan masukkan biji 2-3 per lubang
·
Tutup
benih dengan tanah gembur atau pupuk organik dan
tanpa dipadatkan
·
Waktu
tanam yang baik akhir musim hujan
PENJARANGAN & PENYULAMAN
Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari, benih yang tidak tumbuh diganti atau disulam dengan benih baru yang akan lebih baik jika dicampur Legin. Penyulaman sebaiknya sore hari.
PENYIANGAN
Penyiangan pertama umur 2-3 minggu, ke-2 pada saat tanaman selesai berbunga (sekitar 6 minggu setelah tanam). Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke-2.
PEMBUBUNAN
Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya.
PEMUPUKAN
Contoh jenis dan dosis pupuk sebagai berikut :
|
|
Dosis
Pupuk Makro (per
ha) |
||
|
Urea
(kg) |
SP-36 (kg) |
KCl (kg) |
|
|
2 Minggu Setelah Tanam |
50 |
40 |
20 |
|
6 Minggu Setelah Tanam |
30 |
20 |
40 |
|
Total |
80
kg |
60
kg |
60
kg |
PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN
Kedelai menghendaki kondisi tanah
yang lembab tetapi tidak becek. Kondisi seperti ini dibutuhkan sejak benih
ditanam hingga pengisian polong. Saat menjelang panen, tanah sebaiknya dalam
keadaan kering.
1. Aphis glycine
Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soyabean Mosaik Virus). Menyerang
pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala: layu,
pertumbuhannya terhambat. Pengendalian: (1) Jangan tanam tanaman inang seperti:
terung-terungan, kapas-kapasan atau kacang-kacangan; (2) buang bagian tanaman
terserang dan bakar, (3) gunakan musuh alami (predator maupun parasit).
2. Kumbang daun tembukur (Phaedonia inclusa)
Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun. Gejala:
larva dan kumbang memakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh
tanaman.
3. Ulat polong (Ettiela zinchenella)
Gejala: pada buah terdapat lubang kecil. Waktu buah masih hijau, polong bagian
luar berubah warna, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya.
Pengendalian : (1) tanam tepat waktu.
4. Kepik polong (Riptortis lincearis)
Gejala: polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa.
5. Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli)
Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh.
6. Kepik hijau (Nezara viridula)
Pagi hari berada di atas daun, saat matahari bersinar turun ke polong, memakan
polong dan bertelur. Umur kepik dari telur hingga dewasa antara 1 sampai 6
bulan. Gejala: polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau
kulit polong berbintik coklat.
7. Ulat grayak (Spodoptera litura)
Gejala : kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan
berpencar mencari rumpun lain. Pengendalian dapat dengan
cara sanitasi.
8. Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas sp.)
Gejala : layu mendadak bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam rapat.
Pengendalian : Varietas tahan layu, sanitasi kebun, dan pergiliran tanaman.
9. Penyakit layu (Jamur tanah : Sclerotium Rolfsii)
Penyakit ini menyerang tanaman umur 2-3 minggu, saat udara lembab, dan tanaman
berjarak tanam pendek. Gejala : daun sedikit demi sedikit layu, menguning.
Penularan melalui tanah dan irigasi. Pengendalian; tanam varietas tahan.
10. Anthracnose (Colletotrichum glycine )
Gejala: daun dan polong bintik-bintik kecil berwarna hitam, daun yang paling
rendah rontok, polong muda yang terserang hama menjadi kosong dan isi polong
tua menjadi kerdil. Pengendalian, perhatikan
pola pergiliran tanam yang tepat.
11.Penyakit karat (Cendawan Phakospora phachyrizi)
Gejala: daun tampak bercak dan bintik coklat. Pengendalian, menanam kedelai yang tahan terhadap penyakit.
12. Busuk batang (Cendawan Phytium Sp)
Gejala : batang menguning kecoklat-coklatan dan basah, kemudian membusuk dan
mati. Pengendalian, memperbaiki drainase lahan.
PANEN DAN PASCA PANEN
·
Lakukan
apabila sebagian besar daun sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama
atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning
kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna kuning
agak coklat dan gundul.
·
Perlu
diperhatikan, kedelai sebagai bahan konsumsi dipetik pada usia 75 - 100 hari,
sedangkan untuk benih umur 100 - 110 hari, agar kemasakan biji betul-betul
sempurna dan merata.
·
Setelah
pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera dijemur.
·
Biji
yang sudah kering lalu dimasukkan ke dalam karung dan dipasarkan atau disimpan.
( Ery Setyowati, SP)
Jumat, 11 Februari 2022
CARA MEMBUAT PUPUK ORGANIK atau - KOMPOS FERMENTASI DARI LIMBAH TERNAK
CARA MEMBUAT PUPUK ORGANIK
atau - KOMPOS FERMENTASI DARI LIMBAH TERNAK
Bahan :
1.
Kotoran
hewan ( sapi , kambing , ayam, kelinci dll.) = 3 – 5 bagian.
2. Jerami / sisa-sisa pakan ternak ( yang sudah dicacah
lebih kurang 2 Cm ) = ½ - 1 bagian
3. Rumput / sisa-sisa pakan ternak ( yang sudah dipotong-potong lebih kurang 2
Cm = ½ - 1 bagian
4.
Sekam
/ arang sekam = 1 bagian
5. Bahan organik lainnya ( apabila ada )= 1 bagian
6. Katul = 1/50
bagian
7. Air tebu / larutan tetes gula / larutan gula / nira =
secukupnya
8.
Bioaktivator
/ decomposer / biostarter = secukupnya
9.
Air
bersih = secukupnya
Catatan /
Keterangan :
1. Bagian = takaran / ukuran yang dipergunakan
untuk menakar bahan organik, bisa menggunakan ember,
karung, dll.
2.
Untuk
membuat 1 ton pupuk diperlukan larutan bioaktivator
lebih kurang 1 liter sampai dengan 1,5 liter. ( Jumlah tetes gula = Jumlah bio aktivator ).
3.
Jumlah
air yang diperlukan sampai tercapai kelembaban bahan 40 %
4.
Perbandingan
antara larutan bio
aktivator : tetes gula : air = 2 sendok makan : 2 sendok
makan : 10 liter
5.
Pembasahan
seluruh bahan organik dengan
larutan campuran bio aktivator + tetes gula + air bersih
secara merata sampai
kadar air bahan organik mencapai lebih kurang 40 %
Cara Pembuatan
:
1. Campurkan kotoran
hewan , cacahan jerami dan rumput, sekam / arang sekam sampai tercampur merata
2.
Buat
campuran larutan activator + air tebu / tetes gula + air bersih dengan perbandingan 1 : 1 :
500
3.
Basahi katul dengan larutan tersebut diatas,
sampai sedikit lembab saja ( kelembaban 40% / jangan sampai
menjadi adonan jladren / menggumpal )
4. Taburkan katul lembab tersebut kedalam campuran bahan,
diaduk-aduk secara merata , sambil
dibasahi dengan larutan bioactivator yang telah dicampur dengan air tebu /
tetes gula sampai kelembaban bahan mencapai 40% ( tanda kelembaban sudah
mencapai 40% yaitu apabila bahan organik yang dibasahi tersebut
dikepal-kepal dengan jari tangan yang
rapat kemudian dilepaskan masih tetap dalam kondisi menggumpal , tetapi tidak
ada tetesan air yang keluar dari sela-sela jari tangan ).
5. Tebarkan bahan tersebut setebal kurang lebih 40 Cm diatas
lantai semen atau diatas tanah yang diberi alas jerami kering / tebasan rumput
kering. tempat pembuatan sebaiknya beratap atau dibawah naungan pohon karena
dalam proses pembuatan pupuk organik ini tidak boleh terkena sinar matahari
secara langsung dan air hujan )
6. Tutup dengan karung goni / karung plastik / terpal dsb.
Dan biarkan selama 7 hari
7. Setiap 8 – 12 jam sekali suhu hamparan tersebut harus
diperiksa suhunya,
jangan sampai terlalu panas ( suhu melebihi 60OC ) , maka perlu dibuka sejenak – dan
apabila terlalu panas perlu diaduk-aduk
agar bagian bawah tidak terlalu panas, kemudian ditutup kembali.
8. Pada hari ke 5 biasanya suhu sudah menurun , dan pada hari ke 7 maka proses fermentasi kompos sudah selesai, tutup harus dibuka, dan kompos diangin-anginkan sampai benar-benar dingin , setelah kurang lebih 1 minggu kemudian kompos siap dipergunakan di lahan.
Cara Penggunaan :
Prinsip
penggunaan pupuk organik padat / kompos fermentasi harus dimasukan kedalam lapisan olah tanah ( tertutup lapisan
tanah ), sehingga pupuk organik ini
sebaiknya diberikan sebagai pupuk dasar bersamaan dengan pengolahan tanah ,
dengan takaran 3,5
– 5 ton/ ha. pada kondisi tanah yang normal / tanah yang cukup subur atau disesuaikan dengan tingkat kesuburan
tanah.
Oleh : Ery Setyowati